SIDOARJO – Proyek revitalisasi SDN Pucang Anom di Kecamatan Sidoarjo, Jawa Timur, mendadak jadi sorotan. Pekerjaan fisik sekolah yang dibiayai anggaran APBN tersebut dipantau langsung oleh tim media guna memastikan kualitas material serta pengerjaannya sesuai standar teknis, Sabtu (25/7/2026).
Proyek revitalisasi sekolah ini diketahui merupakan usulan dari Jaring Aspirasi Masyarakat (Jasmas) Lita Machfud Arifin, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem.
Dari hasil penelusuran di lapangan, tim media menemukan sejumlah hal yang janggal pada pengerjaan gedung sebelah barat. Di antaranya penggunaan talang seng sepanjang sekitar 10 meter yang tampak berkarat menyerupai bahan bekas, penggunaan genteng lama yang dikombinasikan dengan genteng baru merek Good Year, hingga adanya material sirtu (pasir batu) yang diayak di area lokasi.
Tak hanya itu, pada pengerjaan rehab gedung sebelah utara yang baru merobohkan bangunan lama, ditemukan penggunaan besi kolom ukuran 6 mm untuk struktur cor berdiri.
Menanggapi temuan tersebut, dua orang mandor di lokasi, Wasis dan Agung, memberikan klarifikasi saat ditemui awak media.
Wasis menjelaskan bahwa sirtu yang diayak bukan dipakai untuk adonan semen bangunan, melainkan untuk menguruk lantai dasar bongkaran gedung utara.
“Adonan semen yang kami aduk menggunakan pasir murni sisa kemarin, bukan dari sirtu diayak,” terang Wasis.
Terkait talang seng yang berkarat, Wasis berdalih hal itu terjadi karena keterbatasan anggaran yang tidak diakomodasi dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Sementara untuk penggunaan besi kolom 6 mm, ia mengaku hanya menyesuaikan dengan struktur bangunan yang lama. “Kami hanya mengikuti konstruksi cor lama yang memang menggunakan besi ukuran 6 mm,” ujarnya.
Sisi material lain juga menjadi perhatian. Konstruksi atap menggunakan galvalum merek Garuda dan semen merek Merah Putih. Walau kedua bahan tersebut sudah berstandar SNI, kualitasnya dinilai masih di bawah merek premium seperti Kencana untuk galvalum atau semen Gresik.
Temuan mengejutkan lainnya adalah tidak ditemukannya mesin molen pengaduk semen di lokasi. Pengerjaan adonan dilakukan secara manual oleh para pekerja. Dengan takaran manual 1 semen, 2 pasir, dan 3 koral, perkiraan mutu beton yang dihasilkan hanya mencapai K125—jauh di bawah standar anjuran untuk struktur bangunan sekolah yang idealnya minimal K200.
Sebelumnya, proyek ini juga sempat mendapat teguran saat Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo melakukan inspeksi mendadak (sidak) dua pekan lalu. Kala itu, pekerja hanya memasang kuda-kuda galvalum tunggal, hingga akhirnya diminta untuk menambahnya menjadi ganda.
”Waktu disidak tim dinas dua minggu lalu, kami dianjurkan pasang kuda-kuda dobel. Ya langsung kami tambahkan jadi dobel,” pungkas Wasis.
Untuk listrik dalam pengerjaan proyek juga diakui nunut Sekolah.idealnya bila dikontraktualkan menyediakan genzet atau izin ngelos listrik khusus proyek pemerintah. Soal token pulsa listrik nanti akan diklaimkan dalam RAB laporan SPJ masih belum menemukan kejelasan baik dari pihak kontraktor atau Kepala SDN Pucang Anom.
Perlu dingat, model pembayaran sudah ditransfer ke rekening sekolah sebesar Rp. 404.981.000 dari Kemendiknas. Setelah dipotong PPN dan PPH-21 sebesar 12,5 persen. Progres pembayaran ini dilakukan uang muka atau DP, dan selanjut dibayar sesuai progres tim belum mendapatkan keterangan pihak terkait. Pengerjaan proyek ini dimulai 15 Juni hingga 13 September 2026 selama 90 hari.
Pengawasan independen ini diharapkan dapat memicu perhatian dari dinas terkait untuk segera mengevaluasi pengerjaan sebelum proyek selesai sepenuhnya, demi keselamatan dan kenyamanan para siswa di masa mendatang. [Budi/Agus/H. Dar/WartaNusa.Net]
