Sidoarjo, Wartanusa.net — Sebuah perahu kayu yang mengangkut perangkat sound horeg dalam rangkaian tradisi Nyadran dilaporkan tenggelam di Sungai Balongdowo, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (7/2/2026) sore. Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial dan menjadi perhatian warganet.
Berdasarkan pantauan dari video yang diunggah akun TikTok @wahyu_doremi, terlihat sebuah perahu kayu membawa perangkat sound berukuran besar mengalami kemiringan sebelum akhirnya tenggelam. Sejumlah kru dan peserta tradisi tampak berupaya menyelamatkan peralatan tersebut dengan cara mengangkatnya dari dalam sungai.
Dalam unggahan lanjutan di akun yang sama, diperlihatkan kondisi perangkat sound yang telah berhasil dievakuasi. Sound system bertuliskan JL Music tampak basah dan sebagian peralatannya mengalami kerusakan akibat terendam air sungai.
Video kejadian tersebut viral dan hingga kini telah ditonton sebanyak 839,9 ribu kali, disertai ribuan tanda suka dan komentar dari warganet. Salah satu komentar datang dari akun TikTok @an0theer.ns yang mengaku sebagai anak pemilik sound system.
“Selaku anak dari owner, saya mengucapkan terima kasih banyak atas semua bantuannya. Hari apes (hari sial) tidak ada di kalender,” tulisnya di kolom komentar akun @wahyu_doremi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab pasti tenggelamnya perahu tersebut maupun estimasi kerugian material yang dialami.
Sebagai informasi, Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang masih dilestarikan hingga kini, khususnya oleh masyarakat pesisir, termasuk di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Sidoarjo. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada Bulan Ruwah atau menjelang bulan suci Ramadan.
Dikutip dari Kompasiana, Nyadran dilakukan oleh para nelayan kupang dengan berlayar menuju makam Dewi Sekardadu untuk berdoa dan menggelar tumpengan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki dan keselamatan selama setahun terakhir. Tradisi ini juga menjadi sarana memohon keberkahan untuk kehidupan mendatang.
Secara etimologis, istilah Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta “Sraddha”, yang kemudian berkembang menjadi Sadran atau Nyadran, dengan makna ziarah kubur dan doa keselamatan. Tradisi Sraddha pertama kali dikenal pada masa Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1284, ketika Raja Hayam Wuruk menyelenggarakan upacara untuk memuliakan ibundanya, Tribhuwana Tunggadewi.
Di Sidoarjo, khususnya Desa Balongdowo, Nyadran menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat nelayan. Mayoritas warga setempat bermata pencaharian sebagai nelayan kerang kupang, komoditas khas daerah yang juga dikenal luas melalui olahan kupang lontong, ikon kuliner Sidoarjo.
Tradisi Nyadran tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga simbol kearifan lokal dan kebersamaan masyarakat pesisir yang terus dijaga dari generasi ke generasi. (nata/dar/red)
