Sidoarjo, Wartanusa.net — Peristiwa tenggelamnya perahu kayu pengangkut sound horeg saat acara nyadran di Balongdowo, Candi, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (7/2/2026), yang dikabarkan sebelumnya, menyisakan kerugian materi bagi pemilik jasa tata suara yang diketahui adalah milik JL Music asal Jombang.Meski demikian, peristiwa tersebut dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa.
Melalui unggahan terbaru di akun TikTok resminya, @jl.musik.jombang, pemilik JL Music mengabarkan bahwa seluruh perlengkapan sound system yang sempat tenggelam di sungai telah berhasil dievakuasi dan dibawa pulang. Dalam video yang diunggah, terlihat sejumlah kru membersihkan peralatan dari lumpur dan kotoran sungai menggunakan air selang, kemudian menjemurnya agar dapat diselamatkan semaksimal mungkin.
Beberapa perangkat tampak masih dapat dibersihkan dan dikeringkan, sementara kondisi sebagian lainnya belum dapat dipastikan sepenuhnya. Pemilik JL Music juga terlihat secara langsung memperlihatkan proses penjemuran perlengkapan sound kepada para pengikutnya di media sosial.
Dalam keterangannya, pemilik JL Music menyampaikan sikap legawa atas musibah tersebut.
“Musibah tidak ada yang tahu. Yang penting kru dan penyewa selamat semua,” ujarnya dalam unggahan tersebut.
Ia menegaskan bahwa keselamatan seluruh kru dan pihak penyewa menjadi hal utama dalam kejadian tersebut. Tragedi tenggelamnya sound horeg yang diangkut menggunakan perahu kayu itu pun dipastikan tidak menelan korban jiwa.
Unggahan tersebut menuai beragam respons dari warganet. Sejumlah akun menyampaikan doa dan dukungan, serta menanyakan kondisi peralatan yang mengalami kerusakan. Salah satu akun, @bdn_audio_production, bertanya, “Sing rusak nopo mawon niku mas?” (yang rusak itu apa saja, mas?). Pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh pemilik dengan menyebutkan beberapa perangkat yang terdampak, di antaranya power, mixer, management, dan perlengkapan lainnya.
Menanggapi banyaknya dukungan dari masyarakat, pemilik JL Music juga menyampaikan apresiasi melalui kolom komentar.
“Terima kasih banyak atas doanya, bolo-bolo. Maaf tidak bisa balas satu-satu. Mohon maaf belum bisa kasih perform yang maksimal,” tulisnya.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat akan pentingnya aspek keselamatan dalam setiap kegiatan, termasuk kegiatan yang dianggap sakral dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat, seperti nyadran. Terlebih, kegiatan yang dilakukan di sungai dengan membawa perlengkapan berukuran besar memerlukan perencanaan dan pengamanan ekstra agar tidak membahayakan kru maupun masyarakat yang terlibat. (nata/dar/red)
