Gaya HidupKesehatan

Doomscrolling dan Zombie Scrolling, Kebiasaan Scroll Tanpa Sadar yang Mengancam Kesehatan Mental

Sidoarjo, Wartanusa.net — Kebiasaan menggulir layar ponsel tanpa henti kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat digital. Di balik aktivitas yang tampak sepele, muncul dua fenomena yang kian mengkhawatirkan, yakni doomscrolling dan zombie scrolling. Keduanya dinilai berpotensi menggerus kesehatan mental secara perlahan, sering kali tanpa disadari oleh pelakunya.

Doomscrolling merujuk pada kebiasaan membaca atau menelusuri berita negatif secara terus-menerus, sementara zombie scrolling adalah perilaku membuka media sosial secara otomatis tanpa tujuan yang jelas. Aktivitas ini kerap dilakukan hanya untuk “mengisi waktu”, namun berujung pada durasi penggunaan gawai yang jauh lebih lama dari yang direncanakan.

Fenomena tersebut dialami oleh berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga orang dewasa. Namun, pengguna aktif media sosial, pelajar, pekerja digital, serta mereka yang terbiasa mengakses informasi melalui ponsel sepanjang hari menjadi kelompok yang paling rentan.

Dalam praktiknya, doomscrolling dan zombie scrolling sering terjadi pada waktu-waktu senggang, seperti sebelum tidur, setelah bangun tidur, atau di sela aktivitas kerja dan belajar. Kebiasaan ini cenderung meningkat saat muncul krisis, bencana, atau isu negatif yang mendominasi pemberitaan dan linimasa media sosial.

Perilaku ini berlangsung di berbagai platform digital, seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), Facebook, hingga aplikasi berita daring. Dengan ponsel yang selalu berada di genggaman, aktivitas menggulir layar dapat dilakukan di mana saja—di rumah, tempat kerja, sekolah, bahkan di ruang publik—tanpa batas waktu yang jelas.

Beragam faktor memicu munculnya kebiasaan ini. Dorongan untuk selalu mendapatkan informasi terbaru, rasa cemas terhadap kondisi sekitar, stres, kebosanan, hingga desain algoritma media sosial yang mendorong pengguna terus menggulir konten menjadi pemicu utama. Tanpa disadari, otak terjebak dalam pola konsumsi informasi yang berulang dan sulit dihentikan.

Dampaknya pun tidak bisa dianggap ringan. Paparan konten negatif secara terus-menerus dapat meningkatkan kecemasan, menurunkan fokus dan konsentrasi, mengganggu kualitas tidur, hingga berdampak pada kesehatan mental secara keseluruhan.

Psikolog IPB University, Nur Islamiah, M.Psi., PhD, yang akrab disapa Ibu Mia, menjelaskan bahwa kondisi ini kerap dialami oleh individu yang mengonsumsi konten digital secara berlebihan.

“Doomscrolling, zombie scrolling, dan kecanduan media sosial dapat meningkatkan rasa cemas, stres, bahkan berujung pada depresi,” ujar dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University tersebut, dikutip dari laman resmi IPB University.

Lebih lanjut, Mia menambahkan bahwa kebiasaan ini juga berkaitan dengan fenomena brain rot, yang dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, khususnya pada remaja. Salah satu mekanismenya adalah penurunan rentang perhatian (attention span).

Remaja yang terbiasa mengonsumsi konten instan, seperti video pendek di TikTok atau Instagram Reels, cenderung mengalami kesulitan mempertahankan fokus pada tugas yang lebih kompleks dan membutuhkan waktu untuk dipahami.

“Mereka sering kehilangan kesabaran ketika menghadapi masalah yang tidak memberikan jawaban secara instan, sehingga kesulitan memahami hal-hal yang lebih kompleks,” tuturnya.

Penurunan attention span ini juga membuat seseorang lebih mudah terdistraksi dan mudah lupa. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berdampak pada menurunnya kemampuan menyelesaikan masalah.

Selain itu, Mia menyoroti adanya kelebihan beban kognitif (cognitive overload). Otak terus dibanjiri informasi baru tanpa jeda untuk menganalisis atau memahami secara mendalam.

Akibatnya, remaja menjadi kurang mampu mengevaluasi informasi secara kritis dan lebih mudah menerima informasi tanpa mempertanyakan kebenarannya.

“Hal ini menghambat kemampuan berpikir logis, mengambil keputusan yang tepat, serta menyelesaikan masalah secara efektif,” jelasnya.

Faktor lain yang turut memperkuat kebiasaan ini adalah instant gratification. Algoritma media sosial dirancang untuk membuat pengguna terus terpaku pada layar. Setiap konten menarik, video lucu, atau notifikasi baru memicu pelepasan dopamin di otak, zat kimia yang menimbulkan rasa senang.

“Akhirnya, kita terdorong untuk terus melihat lebih banyak, menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan menggeser layar, meskipun sebenarnya tidak mendapatkan manfaat yang berarti,” kata Mia.

Fenomena doomscrolling dan zombie scrolling menjadi pengingat bahwa kemudahan akses informasi di era digital perlu diimbangi dengan kesadaran dan kontrol diri. Tanpa pengelolaan yang bijak, kebiasaan scroll tanpa henti justru dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan kualitas berpikir masyarakat. (nata/red)