Coba buka grup WhatsApp keluarga besar Anda pagi ini dan amati obrolannya. Kemungkinan isinya mirip-mirip. Stiker gambar bunga bertuliskan “Selamat pagi, semoga hari ini penuh berkah” mengawali hari. Kemudian diikuti pesan soal khasiat air rebusan daun entah apa atau tautan berita yang judulnya saja sudah bikin deg-degan.
Yang meramaikan obrolan biasanya itu-itu saja. Om, tante, bude, kadang bapak dan ibu kita sendiri.
Lalu ada anggota yang hanya membaca, namun hampir tak pernah muncul. Anak dan keponakan yang masih SMA atau kuliah. Mereka membaca semuanya. Centangnya biru. Tapi responnya? Nihil.
Anak muda punya istilah untuk ini, silent reader. Dulu saya kira itu cuma soal malas mengetik. Belakangan saya curiga ada yang lebih dalam dari sekadar malas.
Pertanyaannya, apakah mereka memang tidak peduli? Atau grup keluarga kita tanpa sadar telah menjadi ruang ceramah, bukan ruang musyawarah?
Ruang Keluarga yang Pindah ke Ponsel
Kalau bicara pola asuh Gen Z dan Gen Alpha, kita biasanya membayangkan meja makan, kamar anak, atau jatah main handphone. Jarang ada yang membahas grup WhatsApp, padahal sebagian besar percakapan keluarga Indonesia hari ini justru berlangsung di grup WhatsApp.
Data dari World Population Review menyebut bahwa pengguna WhatsApp di Indonesia mencapai 112 juta orang, ketiga terbanyak di dunia. Kabar duka, jadwal arisan, foto cucu yang baru lahir, sampai nasihat soal jodoh, semuanya lewat sana.
Masalahnya, tiap generasi membaca pesan dengan cara berbeda. Survei Tirto pada Februari 2019 terhadap 1.586 responden menemukan bahwa makin tua seseorang, makin besar kecenderungannya memercayai informasi yang beredar di WhatsApp. Sementara anak-anaknya, yang sejak kecil terbiasa mengecek dulu sebelum percaya, duduk di grup yang sama.
Artinya, generasi orang tua dan generasi anak membawa cara membaca pesan yang berbeda ke dalam ruang yang sama.
Diam Bukan Berarti Setuju
Teori Pola Komunikasi Keluarga (Family Communication Patterns Theory) dari Ascan Koerner dan Mary Anne Fitzpatrick (2002) membantu membaca fenomena ini.
Sederhananya, teori ini melihat keluarga dari dua sisi. Pertama, orientasi percakapan yang mengukur seberapa bebas anggota keluarga membicarakan apa saja. Kedua, orientasi konformitas yang mengukur seberapa kuat keluarga menuntut keseragaman pendapat dan kepatuhan pada yang lebih tua.
Keluarga yang jarang mengobrol tapi menuntut kepatuhan tinggi disebut keluarga protektif. Di keluarga macam ini, membantah sama dengan kurang ajar, dan konflik lebih baik dihindari.
Bisa jadi, keluarga yang cukup terbuka di lingkungan rumah dapat berubah menjadi protektif begitu masuk grup keluarga besar. Alasannya sederhana, grup itu ditonton banyak orang. Ada om, tante, sepupu, bahkan besan. Budaya ewuh pakewuh membuat anak enggan mengoreksi pesan berantai yang dikirim orang yang lebih tua.
Remaja yang mencoba meluruskan hoaks kerap menerima balasan semacam “anak kecil tahu apa” atau sekadar stiker tertawa. Setelah satu-dua kali, ia memilih diam. Dari situ mereka belajar bahwa diam lebih aman.
Jadi, silent reader belum tentu cuek. Bisa jadi mereka sedang menahan diri, dan kebiasaan itu justru mereka pelajari dari keluarga sendiri. Itu tanda bahwa mereka sedang menyensor diri sendiri, ciri khas pola komunikasi berkonformitas tinggi.
Ketika Anak Lebih Paham dari Orang Tua
Ironinya, pola konformitas berdiri di atas anggapan bahwa orang tua selalu lebih tahu. Untuk urusan digital, anggapan ini sering meleset.
Gen Z dan Gen Alpha tumbuh dengan mesin pencari, fitur cek fakta, dan kepekaan terhadap konten rekayasa. Banyak orang tua justru belajar memakai aplikasi, mengurus akun, atau mengenali penipuan daring dari anaknya.
Dalam kajian komunikasi, gejala ini disebut sosialisasi terbalik, yaitu pengetahuan mengalir dari anak ke orang tua, bukan sebaliknya.
Keluarga yang kaku pada hierarki akan menyia-nyiakan peluang ini. Sebaliknya, keluarga yang membuka ruang percakapan bisa menjadikan anak sebagai “tim cek fakta” paling andal yang dimiliki keluarga.
Sebentar lagi giliran Gen Alpha. Anak-anak yang lahir setelah 2013 akan mulai dimasukkan ke grup keluarga dalam beberapa tahun ke depan. Orang tua mereka, yang kebanyakan milenial, sedang membentuk suasana grup itu hari ini, sadar atau tidak.
Mulai dari Hal Kecil: 5 Cara Mengubah Ruang Ceramah Jadi Ruang Musyawarah
Tidak perlu membubarkan grup keluarga. Yang perlu diubah adalah kebiasaannya. Berikut lima langkah yang bisa dimulai siapa saja, terutama orang tua.
1. Beri contoh berterima kasih saat dikoreksi.
Ketika anak meluruskan pesan yang keliru, balas dengan “Terima kasih sudah dicek ya, nak.” Satu kalimat ini menurunkan ongkos bicara bagi semua anggota muda.
2. Tanya, bukan sekadar kirim.
Alih-alih meneruskan artikel kesehatan, tanyakan, “Ada yang tahu ini benar atau tidak?” Pesan berubah dari ceramah menjadi bahan diskusi.
3. Buat kesepakatan grup bersama.
Misalnya, pesan berantai dicek dulu sebelum diteruskan. Libatkan anak muda dalam menyusun aturan ini.
4. Pindahkan obrolan pribadi ke jalur pribadi.
Nasihat untuk satu anak sebaiknya tidak disampaikan di depan seluruh keluarga besar. Menegur di ruang publik membuat anak menutup diri.
5. Jangan anggap diam sebagai setuju.
Sapa anak yang tak pernah membalas lewat pesan pribadi. Tanyakan pendapatnya tentang obrolan di grup.
Membaca Ulang Tanda Centang Biru
Koerner dan Fitzpatrick mengingatkan bahwa cara keluarga berbicara membentuk cara anak memandang dunia dan membangun hubungan kelak.
Jika anak belajar bahwa di grup keluarga lebih aman diam, pelajaran itu bisa terbawa ke ruang kelas, kantor, hingga ruang publik. Mereka tumbuh menjadi warga yang tahu ada yang keliru, tetapi memilih tidak bersuara.
Jadi, lain kali melihat tanda centang biru tanpa balasan dari anak, jangan buru-buru menyimpulkan ia cuek.
Bisa jadi ia sedang menunggu satu hal sederhana: tanda bahwa suaranya diterima di keluarga sendiri.
Rujukan
Koerner, A. F., & Fitzpatrick, M. A. (2002). Toward a theory of family communication. Communication Theory, 12(1), 70–91.
CNN Indonesia (2 Mei 2025), Jumlah Pengguna WhatsApp Tembus 3 Miliar, Berapa di Indonesia?
Tirto.id (13 Mei 2019), Siapa Penyebar Hoaks di Indonesia?
World Population Review (2026), WhatsApp Users by Country 2026, diakses 14 Oktober 2026.
Biografi Penulis
Dewi Sonya Soraya merupakan lulusan S1 Ilmu Sejarah Universitas Airlangga dan saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Ia memiliki ketertarikan pada kajian keluarga, ekonomi dan bisnis, serta dinamika politik di Indonesia. Berbekal pengalaman selama tujuh tahun sebagai pelaku usaha online shop, ia mengembangkan minat dan kompetensinya di bidang pemasaran digital. Saat ini, ia juga mulai aktif menjadi pemateri dalam berbagai workshop UMKM, khususnya yang berkaitan dengan strategi digital marketing untuk mendukung pengembangan usaha dan meningkatkan daya saing pelaku UMKM di era digital. Melalui tulisan dan aktivitas edukatifnya, ia berupaya menghubungkan perspektif akademis dengan pengalaman praktis untuk memahami dinamika sosial, ekonomi, dan politik, serta mendorong pemberdayaan masyarakat melalui kewirausahaan dan pemanfaatan teknologi digital.

