Pernah mendengar kalimat, “Dulu waktu seumuran kamu, orang tua sudah bisa mencari uang sendiri”? Kalimat ini mungkin terdengar biasa di lingkungan keluarga. Ada orang tua yang mengucapkannya sebagai motivasi, tetapi ada pula anak yang merasa dibandingkan dan tidak dipahami. Situasi ini memperlihatkan dilema pengasuhan antargenerasi: Generasi Z dituntut mandiri dan mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak semuanya memperoleh ruang untuk belajar mengambil keputusan sejak di rumah.
Perbedaan ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan zaman yang membuat tantangan hidup generasi sekarang berbeda dari generasi sebelumnya. Berdasarkan Sensus Penduduk 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Generasi Z mencakup 27,94 persen penduduk Indonesia atau sekitar 74,93 juta jiwa. Sebagai bagian penting dari masa depan bangsa, Gen Z perlu memiliki kemampuan mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, dan beradaptasi dengan perubahan.
Namun, bagaimana anak bisa belajar mandiri jika sejak kecil terbiasa mengikuti keputusan orang lain?
Dalam sebagian keluarga, kepatuhan masih menjadi ukuran keberhasilan mendidik anak. Anak yang tidak membantah dianggap sopan, sedangkan anak yang mempertanyakan keputusan orang tua terkadang dinilai melawan. Padahal, perbedaan pendapat tidak selalu menunjukkan pembangkangan. Anak mungkin hanya ingin memahami alasan di balik keputusan atau menyampaikan sudut pandangnya. Jika setiap perbedaan dianggap sebagai ketidakhormatan, anak dapat terbiasa diam demi menghindari konflik dan kehilangan kesempatan berlatih mengambil keputusan sendiri.
Persoalan ini semakin relevan ketika generasi muda menghadapi tekanan psikologis dan ketidakpastian masa depan. Hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang dipublikasikan pada 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja berusia 10–17 tahun di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir (UGM, 2022). Sementara itu, survei Jakpat terhadap 1.158 responden Gen Z yang dipublikasikan GoodStats pada April 2026 mencatat bahwa 60 persen responden mengkhawatirkan masa depan, terutama terkait karier dan stabilitas ekonomi (GoodStats, 2026). Data ini tidak membuktikan bahwa pola asuh yang menekankan kepatuhan menyebabkan masalah kesehatan mental. Namun, temuan tersebut mengingatkan pentingnya dukungan emosional dan keluarga sebagai ruang aman untuk berkomunikasi.
Ketika Nasihat Berubah Menjadi Persoalan
Perbedaan pandangan orang tua dan anak juga terlihat dalam perbincangan di media sosial. Salah satu video memperlihatkan orang tua yang menilai anak zaman sekarang kurang ajar karena merasa mampu berpikir sendiri dan tidak mau mendengarkan solusi. Sebaliknya, anak merasa pendapatnya tidak pernah benar-benar didengarkan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah anak benar-benar menolak nasihat atau justru merasa tidak diberi kesempatan menjelaskan pikirannya?
Sebuah video tentu tidak cukup untuk menggambarkan seluruh hubungan dalam keluarga. Namun, perdebatan tersebut menunjukkan bahwa nasihat dapat dimaknai berbeda oleh kedua pihak. Orang tua merasa sedang membagikan pengalaman, sedangkan anak mungkin membutuhkan kesempatan untuk menjelaskan masalah sebelum menerima solusi.
Keinginan untuk didengarkan bukan berarti ingin selalu dibenarkan. Anak tetap membutuhkan arahan, tetapi komunikasi juga perlu memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan alasan dan mempertimbangkan pilihan. Orang tua dapat mempertahankan pandangannya tanpa menganggap setiap perbedaan sebagai ancaman terhadap wibawa mereka. Tantangannya bukan menghilangkan peran orang tua, melainkan membangun hubungan ketika nasihat tidak hanya disampaikan, tetapi juga didiskusikan dan dipahami bersama.
Ketaatan Bukan Satu-satunya Ukuran Keberhasilan Pengasuhan
Dalam banyak keluarga, ketaatan masih menjadi salah satu ukuran keberhasilan mendidik anak. Anak yang mengikuti arahan dianggap sopan, sedangkan anak yang mempertanyakan aturan terkadang dinilai keras kepala. Pola ini tidak selalu muncul karena niat buruk. Orang tua mungkin ingin melindungi anak dari keputusan berisiko atau pengalaman yang dianggap merugikan masa depannya.
Namun, niat melindungi dapat menjadi persoalan ketika anak tidak diberi kesempatan mempertimbangkan pilihannya sendiri. Anak mungkin terbiasa mengikuti keputusan orang tua, tetapi belum tentu memiliki pengalaman yang cukup untuk menghadapi persoalan secara mandiri.
Misalnya, seorang anak ingin memilih pekerjaan yang berbeda dari harapan keluarganya. Orang tua menyarankan pekerjaan yang dianggap lebih stabil, sedangkan anak memiliki pertimbangan lain mengenai minat dan masa depannya. Jika perbedaan tersebut langsung dianggap sebagai pembangkangan, percakapan tidak lagi berfokus pada pilihan terbaik, melainkan pada siapa yang harus mengikuti siapa.
Ketaatan dan kemandirian sebenarnya tidak harus dipertentangkan. Anak tetap dapat menghormati orang tua sambil memiliki pendapat sendiri. Orang tua pun dapat memberikan batasan tanpa menutup ruang diskusi. Kemandirian tidak muncul secara otomatis ketika seseorang mencapai usia dewasa. Kemampuan mengambil keputusan berkembang melalui proses belajar, termasuk kesempatan mencoba, menghadapi kesalahan, mengevaluasi pilihan, dan bertanggung jawab atas konsekuensinya. Jika keputusan terus-menerus diambil alih oleh orang tua, anak kehilangan ruang untuk melatih kemampuan tersebut.
Memahami Pola Komunikasi dan Membangun Kemandirian Anak
Persoalan ini dapat dipahami melalui Family Communication Patterns Theory dari Mary Anne Fitzpatrick dan Ascan Koerner. Teori ini melihat komunikasi keluarga melalui dua dimensi, yaitu conversation orientation (keterbukaan dalam berdiskusi) dan conformity orientation (penekanan pada kesamaan pandangan dan kepatuhan). Keduanya membentuk empat pola komunikasi: konsensual, yang terbuka terhadap diskusi tetapi tetap menempatkan orang tua sebagai pengambil keputusan; pluralistik, yang memberi ruang luas bagi perbedaan pendapat; protektif, yang lebih menekankan kepatuhan; serta laissez-faire, yang memiliki keterlibatan komunikasi relatif rendah.
Dalam pengasuhan, yang perlu diperhatikan bukan sekadar aturan yang diberikan, tetapi apakah anak memiliki ruang untuk memahami dan menyampaikan pendapatnya. Orang tua tetap berperan memberikan arahan, tetapi anak juga perlu dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Kemandirian dapat dibangun dengan mendengarkan pendapat anak, menjelaskan alasan di balik aturan, serta memberikan kesempatan mengambil keputusan sesuai usia dan tanggung jawabnya. Anak pun perlu belajar menerima masukan, mempertimbangkan risiko, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Komunikasi keluarga yang sehat bukan berarti selalu sepakat, melainkan mampu membicarakan perbedaan tanpa saling merendahkan.
Pada akhirnya, persoalan parenting lintas generasi bukan tentang menentukan siapa yang paling benar. Orang tua dan Gen Z tumbuh dalam pengalaman yang berbeda, sehingga keterbukaan menjadi penting untuk menjembatani perbedaan tersebut. Mendidik anak agar mandiri membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan, memberikan kepercayaan, dan membuka ruang belajar. Sebab, anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mampu menunjukkan jalan, tetapi juga yang bersedia mendengarkan ketika anak mulai menemukan jalannya sendiri.
Tentang Penulis
Ketut Ardhika Dharmajaya, S.I.Kom., merupakan lulusan STAHN Mpu Kuturan Singaraja dan saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Ia memiliki ketertarikan pada kajian komunikasi, dinamika sosial, serta fenomena budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Melalui tulisan opini, ia berupaya mengangkat berbagai isu aktual secara kritis dan reflektif, khususnya yang berkaitan dengan pola asuh, relasi antargenerasi, dan tantangan kehidupan di era modern.

