Jember, Wartanusa.net — Politeknik Negeri Jember (POLIJE) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan dampak kegiatan usahanya terhadap lingkungan. Upaya tersebut dilakukan melalui penelitian sekaligus pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Integrasi Green Accounting dalam Penerapan Green Industry pada UMKM Batik”.
Penelitian yang memperoleh hibah pada 2026 tersebut menyasar Rezti’s Batik, UMKM batik yang dipimpin Lestari Kusumawati. Penelitian ini diketuai oleh Oryza Ardhiarisca, S.E., S.Si., M.ST., dengan anggota Nur Faizin, S.Si., M.Si., Siska Aprilia Oktaviani, S.E., M.Ak., dan Prillinaya Yudhistira, S.E., M.Ak.
Menurut Oryza, penelitian tersebut berangkat dari semakin besarnya tuntutan terhadap dunia usaha untuk memperhatikan aspek lingkungan dalam menjalankan kegiatan produksinya. Kondisi itu juga berlaku bagi industri batik yang memiliki potensi menghasilkan limbah, terutama limbah cair dari proses pewarnaan.
“Kinerja hijau yang kami maksud dalam penelitian ini adalah kinerja lingkungan. Kami ingin membantu UMKM agar tidak hanya mengetahui kondisi usahanya dari sisi keuangan, tetapi juga dapat mengukur bagaimana kegiatan produksinya berdampak terhadap lingkungan,” ujar Oryza.
Ia menjelaskan, tim peneliti mengembangkan instrumen pengukuran kinerja lingkungan berbasis Microsoft Excel dengan mengacu pada ISO 14031. Pengukuran tersebut mencakup tiga indikator utama, yakni energi dan listrik, air, serta limbah.
Ketiga indikator tersebut dipilih karena berkaitan langsung dengan aktivitas produksi UMKM. Melalui pengukuran tersebut, pelaku usaha dapat mengetahui penggunaan sumber daya sekaligus mengidentifikasi bagian yang masih membutuhkan perbaikan.
“Kami mengembangkan perhitungan kinerja hijau berbasis Microsoft Excel. Dari sana, kami mengumpulkan data riil terkait penggunaan energi, listrik, air, dan limbah yang dihasilkan oleh Rezti’s Batik,” kata Oryza.
Berdasarkan hasil perhitungan tim, kinerja lingkungan Rezti’s Batik berada pada angka sekitar 90 persen. Capaian tersebut tidak terlepas dari sejumlah praktik ramah lingkungan yang telah diterapkan oleh UMKM tersebut.
Oryza mengatakan, Rezti’s Batik telah memiliki sistem pengolahan air limbah sebelum air tersebut dibuang ke lingkungan. Setelah melalui proses pengolahan, air limbah dialirkan ke kolam yang ditumbuhi tanaman enceng gondok dan kolam ikan. Kondisi tersebut juga digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat hasil pengolahan air limbah.
Selain itu, pengecekan kualitas air limbah dilakukan secara berkala dengan memperhatikan parameter BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand).
“Mereka sudah memiliki pengolahan air limbah. Sebelum dialirkan keluar, air limbah tersebut masih dialirkan ke kolam enceng gondok dan kolam ikan. Secara berkala, mereka juga melakukan pengecekan air limbah, termasuk BOD dan COD,” jelas Oryza.
Tidak hanya pengelolaan limbah, aspek penggunaan energi juga menjadi perhatian. Rezti’s Batik telah memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dalam kegiatan usahanya.
Menurut Oryza, penggunaan PLTS menjadi salah satu bentuk upaya efisiensi energi yang telah dilakukan oleh Rezti’s Batik. Di sisi lain, penggunaan air juga tidak dilakukan secara sekali pakai.
“Untuk penggunaan air, mereka memiliki bak yang memungkinkan air digunakan kembali, terutama dalam proses pelorodan warna. Jadi, air tidak langsung dibuang setelah satu kali penggunaan,” tuturnya.
Upaya pengurangan limbah juga dilakukan terhadap sisa malam. Bahan yang masih dapat dimanfaatkan diolah kembali sehingga dapat digunakan dalam proses produksi berikutnya. Rezti’s Batik juga telah menggunakan pewarna alami pada sebagian produk batiknya.
Berbagai praktik tersebut menunjukkan bahwa upaya menuju industri yang lebih ramah lingkungan dapat dilakukan melalui langkah-langkah yang diterapkan secara bertahap dalam kegiatan produksi sehari-hari.
Setelah melakukan pengukuran menggunakan Microsoft Excel, tim POLIJE kemudian mengembangkan instrumen tersebut dalam bentuk website pengukuran kinerja lingkungan. Pengembangan website dilakukan untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan lingkungan di tingkat UMKM.
Melalui website tersebut, data dapat diperbarui secara berkala oleh pemilik usaha. Dengan demikian, perkembangan kinerja lingkungan dapat dipantau dari waktu ke waktu.
Oryza menjelaskan, digitalisasi tersebut juga diharapkan dapat memberikan akses informasi yang lebih terbuka kepada konsumen mengenai upaya lingkungan yang dilakukan oleh UMKM.
“Kami kemudian memodifikasi perhitungan tersebut dalam bentuk website yang dapat diperbarui secara berkala oleh pemilik usaha. Harapannya, konsumen juga dapat mengetahui bagaimana kinerja lingkungan Rezti’s Batik,” ujarnya.
Menurut dia, keberadaan instrumen tersebut bukan semata-mata untuk menghasilkan angka penilaian. Hasil pengukuran justru diharapkan dapat menjadi dasar bagi pelaku usaha untuk menentukan aspek mana yang perlu segera diperbaiki.
Setelah website dikembangkan, tim juga melakukan sosialisasi kepada pihak Rezti’s Batik. Dalam kegiatan tersebut, pelaku usaha diberikan pemahaman mengenai cara menggunakan website sekaligus membaca dan menginterpretasikan hasil pengukuran.
Kegiatan sosialisasi tersebut menjadi bagian dari integrasi antara penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh tim POLIJE. Melalui kegiatan tersebut, pelaku usaha diharapkan mampu melakukan pengukuran kinerja lingkungan secara mandiri.
Oryza menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan UMKM menjadi bagian penting dalam mendorong penerapan prinsip industri hijau. Perguruan tinggi dapat memberikan dukungan melalui penelitian, pengembangan instrumen, serta pendampingan, sementara pelaku usaha menjadi pihak yang menerapkan hasil tersebut dalam kegiatan bisnis sehari-hari.
“Kami berharap langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat mendorong semakin banyak UMKM untuk mulai memperhatikan lingkungan. Jadi, usaha tidak hanya mengejar profitabilitas, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” kata Oryza.
Bagi Rezti’s Batik, upaya tersebut menjadi bagian dari keinginan untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan tuntutan usaha yang semakin memperhatikan keberlanjutan. Sementara bagi POLIJE, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam membantu UMKM mengembangkan usaha yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui pengukuran yang dilakukan secara berkala, pelaku UMKM diharapkan dapat mengetahui kondisi kinerja lingkungannya secara lebih objektif dan menentukan langkah perbaikan berdasarkan data. Dengan demikian, penerapan prinsip green industry tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas usaha secara nyata dan berkelanjutan. (red-nata)



