SIDOARJO – Pengerjaan proyek pembangunan gedung SDN Kebakalan, Kecamatan Porong, yang bersumber dari APBD Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, menjadi sorotan. Proyek yang dikerjakan CV Komando Nusantara dengan nilai kontrak Rp617.539.849 itu diduga memiliki sejumlah persoalan dalam pelaksanaannya.
Sedikitnya terdapat tiga hal yang menjadi perhatian di lapangan. Pertama, papan informasi proyek belum terlihat terpasang di lokasi. Kedua, material bongkaran digunakan untuk pengurukan ruang kelas, padahal dalam spesifikasi pekerjaan terdapat anggaran untuk sirtu urug. Ketiga, kebutuhan listrik untuk aktivitas pekerjaan diduga masih memanfaatkan instalasi listrik milik sekolah.
Pantauan di lokasi menunjukkan, genset dan mesin molen sebenarnya telah didatangkan oleh pelaksana. Namun, saat pekerja melakukan pengeboran untuk pemasangan rangka atap galvalum, terlihat kabel listrik terhubung pada sambungan lampu teras sekolah.
Sementara itu, genset yang seharusnya dapat digunakan sebagai sumber listrik untuk mendukung pekerjaan ditemukan berada di dalam toilet yang tidak difungsikan.
Dari sisi material, sejumlah bahan yang berada di lokasi terlihat cukup baik. Semen yang digunakan di antaranya merek Semen Gresik. Pembesian juga tampak menggunakan ukuran yang disebut sesuai spesifikasi. Material pasir, batu bata merah, dan koral telah didatangkan dan ditempatkan di halaman sekolah.
Proyek tersebut dikerjakan berdasarkan SPK mulai 31 Juli hingga 12 November 2026. Pelaksana dari CV Komando Nusantara, Alfan, telah dihubungi melalui WhatsApp untuk meminta penjelasan mengenai sejumlah temuan tersebut. Namun hingga berita ini ditulis, belum memberikan respons.
Informasi mengenai kondisi pekerjaan kemudian disampaikan kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo, Muchammad Bayu Seto Kharisma Wicaksono, agar dapat menjadi perhatian dan dilakukan pengecekan terhadap pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Sorotan lain muncul dari laporan konsultan pengawas, CV Tisaga Utama Konsultan. Berdasarkan laporan tersebut, progres pekerjaan mengalami deviasi sebesar 4,35 persen.
Target progres pekerjaan tercatat sebesar 15,21 persen, sedangkan realisasi baru mencapai 10,86 persen. Dengan demikian, terdapat selisih antara target dan realisasi sebesar 4,35 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian mengingat proyek menggunakan anggaran daerah dan memiliki batas waktu pelaksanaan yang telah ditetapkan. Pengawasan terhadap kualitas pekerjaan, kesesuaian material dengan spesifikasi, penggunaan fasilitas sekolah, serta capaian progres menjadi penting agar pelaksanaan proyek berjalan sesuai ketentuan.
Selanjutnya, kondisi proyek tersebut diharapkan menjadi perhatian Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Ridho Prasetyo, sehingga setiap persoalan di lapangan dapat segera diklarifikasi dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.[Budi/H. Dar/Red]
