SIDOARJO – Aksi unjuk rasa yang mengatasnamakan Relawan Barisan Prabowo terhadap Rahmat Muhajirin (RM) diduga dipicu oleh beredarnya video yang berindikasi hoaks di media sosial.
Menanggapi hal tersebut, RM yang juga Ketua Dewan Penasehat DPC Partai Gerindra Sidoarjo memberikan klarifikasi dan menyatakan akan menempuh jalur hukum.
“Jika ditemukan unsur tindak pidana, kami tidak segan menempuh jalur hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat, termasuk pembuat video tersebut,” ujar Rahmat Muhajirin.
RM menjelaskan, video berdurasi sekitar 1 menit 13 detik yang beredar itu diduga telah direkayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, rekayasa tersebut bertujuan merusak reputasinya.
Ia mengaku baru mengetahui keberadaan video tersebut dan masih melakukan pendalaman terhadap isi serta keasliannya.
“Saya perlu waktu untuk mempelajari konten maupun visual dalam video itu. Dugaan saya, suara dibuat sedemikian rupa sehingga terdengar menyerupai saya,” katanya.
RM menilai narasi dalam video tersebut cenderung menyesatkan dan berpotensi memicu persepsi negatif di masyarakat. Ia juga menyoroti adanya dugaan penggabungan potongan suara yang tidak utuh.
Menurutnya, terdapat sejumlah kejanggalan dalam video tersebut, termasuk penggunaan foto lama yang disertai keterangan waktu yang tidak sesuai.
“Ada foto saya yang digunakan, tetapi keterangan waktunya tidak relevan. Ini menimbulkan pertanyaan terkait validitas konten tersebut,” ujarnya.
Terkait isi percakapan dalam video, RM menyebut sebagian pernyataan bersifat umum, namun ada bagian lain yang diduga telah dipelintir sehingga menimbulkan makna berbeda.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
“Saya berharap masyarakat lebih bijak dalam menyikapi informasi di media sosial, terutama yang belum jelas kebenarannya,” tambahnya.
Saat ini, RM bersama tim hukumnya tengah menelusuri asal-usul video tersebut, termasuk akun yang pertama kali mengunggahnya.
Sementara itu, aksi unjuk rasa yang dilakukan sekelompok orang di depan kantor DPD Partai Gerindra Jawa Timur di Surabaya berlangsung pada Senin (6/4/2026).
Aksi yang disebut dikoordinasikan oleh Diana Rosiana Samar tersebut menuntut RM untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Namun, saat RM hadir dan menawarkan dialog langsung, massa aksi dilaporkan membubarkan diri.(dar/nata/red)
