Politik

Berpikir Positif untuk Sidoarjo yang Lebih Baik

Sidoarjo – wartanusa.net
Di tengah situasi politik yang kian dinamis, suasana teduh hadir dari sebuah pertemuan sederhana di Wisata Bahari Tlocor,  Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Sejumlah aktivis dari komunitas Damai Itu Indah (DII) berkumpul dalam semangat silaturahmi, ditemani aroma harum Ikan Bakar Bandeng—kuliner khas Sidoarjo yang tak hanya menggoda selera, tapi juga menjadi lambang kedekatan sosial masyarakat pesisir.

Pertemuan itu bukan sekadar temu kangen atau makan bersama, tetapi menjadi ruang jujur untuk berbagi pandangan tentang situasi daerah. Salah satu topik yang tak bisa dihindari adalah isu ketidakharmonisan antara legislatif dan eksekutif yang belakangan menyita perhatian publik, terutama pasca penolakan Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan  (LPP) APBD 2024 oleh DPRD Sidoarjo.

Abdullah yang disapa akrab Cak Dollah adalah tokoh masyarakat yang sudah lama malang melintang dalam dinamika sosial Sidoarjo, turut hadir dalam kesempatan itu. Di tengah obrolan santai, ia menyampaikan pendapatnya secara lugas namun tetap menyejukkan. Ia mengingatkan bahwa fungsi legislatif sebagai pengawas sangat penting, tetapi tak boleh kehilangan tanggung jawab moral untuk menciptakan suasana yang kondusif.

“Wakil rakyat itu bukan hanya penyeimbang kekuasaan, tapi juga penyejuk di tengah gejolak. Kalau ada yang dikritik, silakan. Tapi jangan sampai kritik itu jadi panggung untuk saling menjatuhkan,” kata Cak Dollah dengan nada senyum humanisme.

Ia menyebut bahwa kepemimpinan Bupati Subandi sejauh ini menunjukkan keberpihakan yang jelas kepada masyarakat. Responsif terhadap keluhan warga, terbuka terhadap masukan, dan aktif dalam menyentuh langsung persoalan-persoalan sosial—itulah yang menurutnya layak diapresiasi. Bahkan, tak sedikit warga yang menyebut beliau sebagai Bapak Warga Sidoarjo, bukan semata karena jabatan, melainkan karena kehadirannya yang nyata di tengah rakyat.

Terkait polemik LPP Pelaksanaan APBD 2024, Cak Dollah tidak menampik bahwa DPRD memiliki hak penuh untuk menggunakan fungsi pengawasannya. Namun ia mengingatkan, apa pun bentuknya, keputusan politik harus tetap memperhatikan dampaknya terhadap rakyat.

“Rakyat tidak hidup dari debat di gedung dewan. Mereka hidup dari perputaran ekonomi yang nyata. Kalau PAK atau program-program penting tersendat karena konflik elite, yang dirugikan bukan pemerintah—tapi rakyat,” ucap arek kelahiran Sawongcangkring Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo ini.

Ia mengajak agar semua pihak—baik legislatif maupun eksekutif—kembali pada niat awal pengabdian: “Melayani Rakyat”. Ego politik, kata Cak Dollah, harus dikesampingkan. Sebab yang dibutuhkan rakyat hari ini adalah ketenangan, stabilitas, dan kerja nyata.

“Kalau memang ada kekurangan dalam laporan pertanggungjawaban, jadikan itu bahan evaluasi. Tapi tolong, jangan jadikan proses ini sebagai alat untuk memperpanjang drama. Politik itu harus memberi solusi, bukan memperbanyak masalah,” lanjutnya.

Cak Dollah juga menekankan pentingnya membangun komunikasi politik yang sehat. Ia percaya bahwa perbedaan pandangan bukan alasan untuk terpecah. Justru dari perbedaan itulah seharusnya muncul kolaborasi, jika semua pihak memiliki niat yang sama untuk membangun.

Di akhir pertemuan, Cak Dollah menegaskan harapannya agar masyarakat turut mendorong suksesnya 14 program prioritas yang telah dijanjikan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Subandi–Mimik. Mulai dari pembenahan pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga ekonomi kerakyatan—semua butuh dukungan penuh dari semua elemen tanpa terkecuali.

“Ayo kita dorong bersama agar 14 program Subandi–Mimik segera terealisasi dengan baik. Jangan sampai terganggu oleh drama politik yang berkepanjangan. Cukup sudah rakyat menjadi korban tarik-menarik kepentingan. Sekarang saatnya bekerja,” seru Cak Dollah menutup diskusi.

Senja perlahan turun di ufuk Tlocor. Tapi pesan dari diskusi itu justru terasa menguat. Bahwa berpikir positif itu penting, tapi tetap harus disertai sikap kritis dan keberanian untuk menjaga arah. Semua demi satu tujuan: Sidoarjo yang lebih baik, stabil, dan pemimpin berpihak kepada rakyatnya. (Fauzan/dar/nata/red)