SIDOARJO – Pengerjaan proyek Pembangunan Jalan dan Jembatan Frontage Road Waru–Buduran senilai Rp 2.999.992.412,62 masih menghadapi kendala pembebasan area kerja. Selain bengkel las milik Darwin, keberadaan rumah dinas milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di sekitar lokasi turut menjadi persoalan yang perlu diselesaikan agar pekerjaan tidak semakin terlambat.
Direktur CV Jaya Mulia selaku penyedia jasa pelaksana, Romadhon, memantau langsung aktivitas pekerjaan di lokasi pada Jumat (9/10/2026). Di tengah upaya mengejar keterlambatan atau deviasi proyek, lima pekerja terlihat melakukan pengecoran pada bagian penutup saluran resapan air hujan yang menggunakan konstruksi besi baja.
Menurut Romadhon, pekerjaan berat yang masih harus diselesaikan di antaranya pemasangan beton DUB untuk jembatan dengan bantuan alat berat excavator PC 200. Namun, alat berat tersebut dilaporkan tidak beroperasi selama tiga hari terakhir dan berada di sekitar lokasi proyek.
Lokasi pekerjaan berada di sebelah utara rel kereta api Siwalanpanji, tepatnya di kawasan utara SMKN 3 Buduran.
Relokasi bengkel las belum menemui kepastian
Selain pekerjaan konstruksi, penyelesaian persoalan bengkel las milik Darwin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran proyek. Alat berat yang didatangkan ke lokasi juga direncanakan untuk membantu pembongkaran bengkel tersebut. Namun, rencana itu belum dapat direalisasikan karena penyelesaian antara PT KAI dan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUBM dan SDA) Pemerintah Kabupaten Sidoarjo belum mencapai kesepakatan final.
Romadhon mengatakan, pembahasan mengenai pemindahan bengkel las tersebut telah dilakukan dalam rapat di kantor Dinas PUBM dan SDA pada Kamis (8/10/2026). Rapat itu turut didampingi Kejaksaan Negeri Sidoarjo dan dihadiri PT KAI sebagai pihak yang memiliki lahan tempat bengkel tersebut berdiri.
Kepala Dinas PUBM dan SDA Sidoarjo, H. Makhmud, disebut juga pernah meninjau langsung bengkel tersebut dan berfoto bersama Darwin beserta istrinya.
Meski sejumlah pertemuan telah dilakukan, kepastian relokasi bengkel masih dinantikan. Padahal, keberadaan bangunan tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu dituntaskan agar pelaksanaan proyek dapat berjalan lebih lancar.
Darwin berharap bengkel direlokasi…
Darwin mengaku telah menjalankan usaha bengkel las di lokasi tersebut selama sekitar 10 tahun. Ia menyebut, pada awalnya dirinya menyewa lahan kepada PT KAI pusat di Bandung.
Seiring rencana pembangunan Frontage Road Waru–Buduran, Darwin mengaku tidak lagi dapat memperpanjang masa sewanya sejak 2024. Ia mengatakan, keputusan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan proyek yang membutuhkan area di sekitar lokasi bengkel.
Darwin berharap pemerintah dan pihak terkait memberikan solusi berupa ganti rugi atau pembangunan kembali bengkel di tempat relokasi. Baginya, bengkel tersebut bukan sekadar bangunan, melainkan tempat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Saya sudah ikuti rapat bolak-balik, tetapi belum ada kejelasan. Kemarin sudah ada titik temu, bengkel saya direlokasi di area bekas rumah dinas. Saya tidak tahu jadi atau tidak. Sebenarnya simpel, kalau tidak ada anggaran, biaya bisa dimasukkan dalam RAB proyek ini melalui penyedia pelaksananya,” ujar Darwin.
Ia menambahkan, sejak 2024 dirinya tidak lagi membayar sewa karena tidak diperbolehkan memperpanjang kontrak lahan kepada PT KAI sehubungan dengan adanya proyek Frontage Road.
Rumah dinas PT KAI juga menjadi kendala
Selain bengkel las, rumah dinas milik PT KAI yang berada di sebelah utara proyek juga menjadi bagian dari persoalan yang perlu diselesaikan.
Menurut Romadhon, sebelum bangunan rumah dinas tersebut dibongkar, PT KAI masih meminta penundaan untuk melakukan penghitungan nilai bangunan yang akan diklaimkan sebagai ganti rugi kepada Dinas PUBM dan SDA.
Dengan demikian, penyelesaian proyek tidak hanya bergantung pada percepatan pekerjaan konstruksi di lapangan, tetapi juga pada koordinasi antarlembaga terkait bangunan yang terdampak pembangunan.
Penyedia siap membantu pembongkaran
Romadhon menegaskan, dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) pekerjaan yang menjadi tanggung jawab CV Jaya Mulia tidak terdapat alokasi khusus untuk memberikan ganti rugi atau membangun kembali bengkel milik Darwin.
Meski demikian, ia menyatakan kesediaannya membantu proses pembongkaran dan pemindahan barang apabila lokasi relokasi telah disepakati.
“Kalau sekadar membantu merobohkan bengkel dan mengangkut barang-barangnya ke tempat relokasi, saya siap,” tegas Romadhon saat ditemui di lokasi proyek.
Ia juga menjelaskan, pengadaan beton DUB dan penutup besi baja telah dilakukan oleh pemenang proyek pada tahun sebelumnya. Pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya saat ini adalah memasang material yang telah tersedia tersebut.
“Untuk pengadaan DUB dan penutup besi baja sudah dilakukan tahun sebelumnya oleh pemenang proyek. Saya hanya tinggal memasangnya saja,” ujarnya.
Penyelesaian persoalan bengkel las dan rumah dinas PT KAI kini menjadi bagian penting dalam upaya memperlancar pekerjaan Frontage Road Waru–Buduran. Kepastian relokasi, kejelasan penanganan bangunan terdampak, serta koordinasi antara pihak terkait diharapkan dapat membantu mengurangi hambatan di lapangan tanpa mengabaikan hak dan kepentingan pihak yang terdampak pembangunan.(Budi/H.Dar/Red)
