SIDOARJO – Sorotan Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana, S.AP., terhadap material pasir pada proyek Rumah Pompa Lippo tidak membuat pelaksana pekerjaan berkecil hati. Sebaliknya, teguran tersebut justru menjadi pemacu semangat kontraktor untuk mempercepat dan menjaga kualitas pekerjaan di lapangan.
Proyek Rumah Pompa Lippo dengan nilai kontrak Rp2.399.956.840 itu sebelumnya mendapat inspeksi langsung dari Wakil Bupati Sidoarjo pada Senin (21/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Wabup Mimik menyoroti kualitas material pasir yang digunakan dalam pekerjaan.
H. Bisri, Direktur CV Alaric Karya selaku kontraktor pelaksana, menjelaskan bahwa pasir yang digunakan dalam proyek tersebut bukan berasal dari Lumajang, melainkan didatangkan dari Mojokerto dan Pasuruan hal ini sesuai spek. Meski demikian, ia memilih mengikuti arahan pimpinan daerah sebagai bentuk penghormatan sekaligus komitmen terhadap kualitas pekerjaan.
“Kami menghormati arahan Ibu Wakil Bupati. Karena itu, kami kemudian membeli pasir Lumajang sesuai yang dianjurkan,” ujar H. Bisri saat ditemui di lokasi proyek, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Bisri, sorotan tersebut justru menjadi motivasi bagi dirinya dan tim untuk semakin serius memantau perkembangan pekerjaan. Setelah inspeksi Wabup Mimik, ia mengaku semakin intens turun langsung ke lapangan untuk memastikan progres proyek berjalan sesuai target.
Hasilnya, progres pekerjaan Rumah Pompa Lippo menunjukkan capaian positif. Berdasarkan laporan konsultan pengawas, progres pekerjaan tercatat surplus sekitar 9 persen dibandingkan target yang telah ditetapkan.
“Setiap hari saya pantau progres pekerjaan. Alhamdulillah, sampai sekarang progresnya cukup bagus dan berada di atas target. Bahkan, laporan konsultan pengawas menunjukkan surplus sekitar 9 persen,” jelasnya.
Konstruksi Penampung Air Diperkuat
Bisri juga memaparkan sejumlah pekerjaan utama yang tengah dikebut, salah satunya pembangunan plengsengan atau struktur penahan pada kolam penampungan air Rumah Pompa Lippo.
Ia menyebut ketebalan pasangan batu pada bagian bawah mencapai sekitar 1,5 meter dan semakin ke atas dibuat bertahap hingga sekitar 40 sentimeter. Pada sisi barat, pasangan batu kali juga dibuat dengan konstruksi yang cukup tebal.
“Struktur penampung air ini kami kerjakan dengan konstruksi yang kuat. Ketebalan pasangan batu dari bawah sekitar 1,5 meter, kemudian naik ke atas hingga sekitar 40 sentimeter,” terangnya.
Selain konstruksi kolam penampungan, proyek tersebut juga mencakup pengadaan dua unit mesin pompa dengan kapasitas masing-masing 250 KVA. Dua mesin tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan debit sekitar 1.200 liter per detik untuk membantu menguras air hujan sebagai bagian dari upaya menghadapi potensi banjir.
Dengan progres yang telah melampaui target, Bisri optimistis proyek Rumah Pompa Lippo dapat diselesaikan sesuai jadwal.
“Saya optimistis pekerjaan Rumah Pompa depan Lippo ini selesai tepat waktu. Progresnya paling baik dibandingkan yang lainnya,” tegasnya.
Kendala Utilitas PDAM
Di balik progres yang positif, pekerjaan proyek juga tidak sepenuhnya berjalan tanpa kendala. Salah satu persoalan yang dihadapi pelaksana adalah keberadaan utilitas pipa PDAM di sekitar lokasi proyek.
Menurut Bisri, gangguan terhadap jaringan pipa tersebut turut berdampak pada aktivitas pekerjaan. Proses pembenahan dan penyambungan kembali pipa membutuhkan waktu dan biaya, sementara kondisi kolam penampungan yang kemudian terisi air membuat aktivitas pekerja harus dihentikan sementara.
“Yang mengganggu pekerjaan hanya utilitas pipa PDAM. Dampaknya juga terasa bagi kami. Untuk membenahi sambungan pipa tentu ada biaya. Air di kolam juga menjadi naik sehingga kami harus meliburkan pekerja,” ungkapnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan komitmen kontraktor. Bisri menyatakan para pekerja tetap mendapatkan haknya meskipun pekerjaan sempat dihentikan sementara.
“Pekerja sudah datang, tentu gajinya tetap kami bayarkan. Itu bagian dari kendala yang kami hadapi. Namun, kami tetap optimistis pekerjaan bisa selesai,” katanya.
Sebagai tahap akhir pekerjaan, kontraktor akan memasang pagar BRC mengelilingi kolam penampungan air dan bangunan rumah pompa. Pagar tersebut ditujukan untuk meningkatkan keamanan kawasan sekaligus menjaga fasilitas pompa yang nantinya menjadi salah satu bagian penting dalam pengendalian genangan air.
Dengan progres yang berada di atas target dan pengawasan yang terus dilakukan, proyek Rumah Pompa Lippo kini diarahkan untuk menuntaskan seluruh pekerjaan sesuai jadwal. Bagi pelaksana, sorotan dan evaluasi dari pimpinan daerah justru menjadi dorongan untuk membuktikan bahwa proyek tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat.(Budi/H Dar/Red)
