SIDOARJO – Wacana kembalinya Bupati Sidoarjo, Subandi, sebagai Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sidoarjo menuai beragam tanggapan dari internal partai.
Sejumlah kader menyampaikan pandangan kritis terhadap rencana tersebut. Salah satunya disampaikan Ketua DPC Perempuan Bangsa Sidoarjo, Hj. Machmudatul Fatchiyah. Ia menilai, kepemimpinan partai perlu diukur dari capaian yang terukur, termasuk hasil elektoral.
“Perlu ada evaluasi terhadap capaian selama periode sebelumnya, termasuk hasil Pemilu 2024,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya partai yang berpihak pada kepentingan organisasi secara menyeluruh. Selain itu, menurutnya, partai juga perlu memperhatikan penguatan kelembagaan, termasuk kepemilikan kantor sekretariat.
Di sisi lain, sejumlah kader juga menilai bahwa aspek kepemimpinan di pemerintahan dapat menjadi pertimbangan dalam menilai kapasitas seorang figur dalam memimpin partai.
Lebih lanjut kata perempuan yang disapa Ning Mafa tersebut mengungkap bahwa Bupati Subandi selama memimpin PKB Sidoarjo mesin partai hanya digunakan untuk kepentingan keluarga. Pileg (Pemilu Legislatif) 2024 suara PKB Sidoarjo turun sehingga kursi legislatif DPRD Sidoarjo turun satu kursi dari 16 kursi menjadi 15 kursi.
“Manajerial kepemimpinannya tidak bagus. Terbukti belum satu tahun menjabat Bupati sudah congkreh dengan wakil bupati. Kader begini kok mau Pimpin PKB lagi,. Memimpin pemerintahan gak bisa, kok memimpin partai PKB,”tegasnya menolak keras.
Sementara itu, dukungan terhadap Subandi juga disebut datang dari sejumlah Pengurus Anak Cabang (PAC). Namun, hal ini memunculkan perbedaan pandangan di internal partai.
Machmudatul Fatchiyah mengingatkan agar seluruh kader tetap mematuhi aturan dan keputusan organisasi, khususnya terkait dinamika pada Pilkada 2024.
“Disiplin terhadap keputusan partai menjadi hal penting dalam menjaga soliditas organisasi,” katanya.
Penolakan juga disampaikan Ketua DPAC PKB Sedati, Syamsul Hadi. Ia menyebut, secara organisatoris status keanggotaan Subandi perlu menjadi perhatian dalam proses penentuan kepemimpinan partai. Secara administratif dan ideologi Subandi sudah bukan kader PKB lagi sejak Pilkada 2024 karena sudah dipecat menyatakan mengundurkan diri tidak patuh pada partai dan berkhianat pada partai.
“Perlu ada kejelasan terkait status keanggotaan sesuai mekanisme dan aturan partai,” ujarnya.
Menurutnya, proses pemilihan ketua DPC sebaiknya mengedepankan kader internal yang dinilai memiliki loyalitas dan rekam jejak di partai.
Sejumlah nama kader internal pun mulai disebut sebagai alternatif calon Ketua DPC PKB Sidoarjo. Di antaranya Usman, Abdillah Nasih, Rizza Ali Faizin (Kaji Reza), Dhomroni, Anik Maslachah, Ainun Jariyah, serta Achmad Amir Aslichin. Mereka dinilai memiliki pengalaman dan proses panjang di internal partai.(dar/nata/red)
