Konsumsi Berlebihan Video Pendek Picu Fenomena Brain Rot, Ancaman Serius bagi Fungsi Kognitif
Sidoarjo, Wartanusa.net — Maraknya konten video berdurasi pendek di berbagai platform media sosial kini menjadi sorotan. Di balik kemudahan akses dan hiburan instan yang ditawarkan, konsumsi berlebihan terhadap konten semacam ini dinilai dapat memicu fenomena brain rot, yakni penurunan fungsi kognitif yang berisiko mengganggu perkembangan otak, terutama pada anak-anak dan remaja.
Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, ditambah penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi konten, membuat arus informasi mengalir tanpa henti. Banyak konten dibuat dengan topik sensasional, durasi singkat, dan judul clickbait, namun minim nilai edukasi. Pola konsumsi inilah yang dikhawatirkan membentuk kebiasaan berpikir instan dan dangkal.
Psikolog Anak dan Remaja, Lydia Agnes Gultom, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa brain rot bukan sekadar istilah populer di media sosial, melainkan kondisi psikologis yang nyata dan perlu diwaspadai.
“Secara psikologis, brain rot merupakan penurunan fungsi berpikir atau kognitif pada anak yang terjadi secara cepat, mirip seperti proses pembusukan. Hal ini dipicu oleh konsumsi konten yang kurang bermakna dan tidak berkualitas, sehingga otak tidak mendapatkan stimulasi yang memadai,” jelas Lydia, dikutip dari kanal YouTube Klinik Utama DR Indrajana.
Menurutnya, otak anak yang terus-menerus terpapar konten instan akan terbiasa menerima rangsangan cepat tanpa proses berpikir mendalam. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan daya analisis.
Fenomena brain rot tidak hanya mengancam anak-anak. Orang dewasa pun berpotensi mengalami dampak serupa, terutama mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam mengonsumsi konten hiburan singkat tanpa jeda dan tanpa keseimbangan aktivitas lain.
Hal tersebut diperkuat oleh Artika Mulyaning Tyas, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam artikelnya yang dimuat di situs resmi RS Marzoeki Mahdi. Ia menyebutkan bahwa konsumsi konten digital yang tidak berkualitas dapat berdampak pada berbagai aspek fungsi kognitif dan psikologis, seperti menurunnya daya ingat, hilangnya fokus dan konsentrasi, hingga melemahnya kemampuan analisis.
Selain itu, paparan konten instan yang berlebihan juga berisiko menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan kompleks, serta meningkatkan ketergantungan terhadap validasi sosial, seperti jumlah likes dan komentar di media sosial.
Untuk meminimalkan risiko brain rot, para pakar menyarankan adanya pengendalian dalam penggunaan media sosial. Pembatasan waktu layar menjadi langkah awal yang penting, dengan durasi ideal tidak lebih dari 1 hingga 1,5 jam per hari.
Masyarakat juga diimbau lebih selektif dalam memilih konten, dengan mengutamakan sumber informasi yang kredibel dan bernilai edukatif. Aktivitas yang melatih keterampilan berpikir kritis, seperti membaca buku, artikel mendalam, berdiskusi, dan melakukan refleksi terhadap informasi, dinilai mampu menjaga kesehatan kognitif.
Di sisi lain, interaksi sosial secara langsung tetap menjadi kebutuhan utama. Meluangkan waktu untuk berkomunikasi dan beraktivitas bersama keluarga serta teman dapat membantu menjaga keseimbangan mental di tengah derasnya arus digital.
Kemajuan teknologi dan media sosial pada dasarnya membawa banyak manfaat, terutama dalam hal akses informasi yang cepat dan terkini. Namun, tanpa kontrol dan kesadaran, teknologi juga berpotensi menimbulkan dampak negatif, termasuk menurunnya kualitas berpikir akibat dominasi hiburan instan.
Kesadaran akan pola konsumsi digital yang sehat menjadi kunci agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal, tanpa mengorbankan fungsi kognitif dan kesehatan mental penggunanya. (nata/red)
