SIDOARJO – Sejumlah usulan pembangunan infrastruktur desa melalui program Jaring Aspirasi Masyarakat (Jasmas) yang dikawal oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Daerah Pemilihan (Dapil) Sidoarjo hingga kini belum kunjung terealisasi. Berbagai usulan yang diserap dari masa reses tersebut sangat dinantikan warga, mulai dari penataan wisata religi hingga infrastruktur pengendali bencana.
Salah satu yang paling dinanti adalah proyek pavingisasi halaman makam sesepuh di RT 10 RW 03 Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo. Makam yang dikenal sebagai pesarean Mbah Pahing dan Mbah Pon ini merupakan salah satu pusat kegiatan keagamaan warga setempat.
”Iya, ini lokasi yang diusulkan. Katanya tahun ini (realisasinya), tapi entah bulan berapa,” ujar Sutadji (70), juru kunci makam Mbah Pahing dan Mbah Pon Desa Lebo, saat ditemui Sabtu (4/7/2026).
Menurut Sutadji, makam sesepuh ini memiliki daya tarik tersendiri. Volume peziarah sempat melonjak tajam menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak pada 24 Mei 2026 lalu. Bahkan di hari-hari biasa, peziarah dari luar Desa Lebo selalu datang silih berganti setiap malam. Warga berharap pavingisasi segera dilakukan agar area makam menjadi lebih bersih, tertata, dan siap dikembangkan sebagai destinasi wisata religi desa.
Dari Jogging Track Candi hingga Benteng Longsor di Krembung
Tak hanya di Desa Lebo, usulan Jasmas legislator Jatim ini juga tersebar di beberapa kecamatan lain di Sidoarjo dengan kebutuhan yang beragam:
• Fasilitas Olahraga di Desa Gelam (Kecamatan Candi): Meningkatnya kesadaran warga akan gaya hidup sehat mendorong pemdes setempat mengajukan bantuan pavingisasi jogging track. Fasilitas ini diharapkan bisa menjadi pusat olahraga yang representatif bagi warga desa.
• Tembok Penahan Tanah (TPT) di Desa Balonggarut (Kecamatan Krembung): Infrastruktur ini mendesak karena dipicu oleh ancaman bencana alam. Curah hujan tinggi beberapa bulan terakhir menyebabkan longsor di beberapa titik. Keterbatasan Dana Desa (DD) membuat pihak pemdes mengandalkan bantuan Jasmas ini demi keselamatan warga.
• Gapura Desa Tropodo (Kecamatan Krian): Usulan ini lahir dari masalah batas wilayah. Banyak pendatang maupun warga yang kebingungan menentukan batas desa saat melintas. Pembangunan gapura ikonik dinilai menjadi solusi cerdas sebagai penanda wilayah.
Desa Pepelegi Waru Dapat ‘Porsi Istimewa’ Sambut Musim Hujan
Menariknya, dari sekian banyak usulan, Desa Pepelegi di Kecamatan Waru tampaknya mendapatkan porsi perhatian paling besar. Usulan proyek saluran irigasi dan plengsengan di desa ini terbilang masif karena mencakup hampir seluruh wilayah RT dan RW.
Kondisi plengsengan sungai yang sudah tidak layak menjadi biang kerok utama banjir tahunan di wilayah tersebut. Saat musim hujan tiba, air sungai kerap meluap dan merendam permukiman warga, salah satunya di wilayah RT 04 RW 06 akibat saluran air yang buntu.
Pemerintah Desa Pepelegi berharap proposal plengsengan saluran air ini bisa segera digedok guna mengantisipasi ancaman banjir sebelum musim penghujan berikutnya tiba.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Sidoarjo hanya bisa berharap janji-janji pembangunan yang dititipkan lewat kursi parlemen tersebut tidak sekadar menjadi catatan di atas kertas, melainkan segera mewujud nyata di lapangan. [budi/dar/nata/red]
